TOPMEDIA – Demensia merupakan gangguan kesehatan yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sosial dan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini umumnya ditandai dengan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, hingga kesulitan mengambil keputusan.
Salah satu bentuk yang paling sering dikenal masyarakat adalah pikun atau mudah lupa. Gangguan ini dapat memengaruhi memori sekaligus fungsi otak dalam memproses informasi.
Meski sering dikaitkan dengan proses penuaan, demensia sebenarnya bukan bagian normal dari bertambahnya usia. Namun, kondisi ini memang lebih sering dialami oleh orang lanjut usia, terutama mereka yang berumur 65 tahun ke atas.
Mengutip berbagai sumber kesehatan, risiko demensia dapat dipengaruhi oleh dua jenis faktor, yakni faktor yang tidak bisa diubah dan faktor yang masih bisa dikendalikan. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia, riwayat keluarga, faktor genetik, hingga kondisi seperti sindrom Down.
Sementara itu, ada juga faktor yang berasal dari gaya hidup sehari-hari. Kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele justru dapat meningkatkan risiko terjadinya demensia jika terus dilakukan dalam jangka panjang.
Salah satunya adalah jarang berolahraga. Meski demensia menyerang fungsi otak, aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kognitif. Olahraga dapat membantu melancarkan aliran darah ke otak, meningkatkan denyut jantung, serta menjaga fungsi otak agar tetap optimal.
Tak hanya itu, rutin bergerak juga diketahui mampu menurunkan risiko gangguan daya ingat dan memperlambat penurunan fungsi otak seiring bertambahnya usia.
Kebiasaan lain yang perlu dihindari adalah kurang tidur. Istirahat yang tidak cukup dapat membuat otak sulit berkonsentrasi dan berpikir jernih. Dalam jangka panjang, kurang tidur juga disebut dapat mempercepat perkembangan gangguan kognitif, termasuk demensia.
Saat tidur, tubuh dan organ vital, termasuk otak, memerlukan waktu untuk memulihkan energi. Jika waktu tidur terganggu, proses pemulihan ini tidak berjalan maksimal.
Selain itu, konsumsi obat-obatan secara berlebihan, terutama obat tidur yang dijual bebas, juga perlu menjadi perhatian. Penggunaan obat tidur tanpa pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko gangguan memori.
Karena itu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis terkait obat yang dikonsumsi, terutama jika digunakan dalam jangka panjang.
Kebiasaan lain yang tak kalah berisiko adalah mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa asupan alkohol dalam jumlah tinggi dapat memicu perubahan pada struktur otak.
Zat neurotoksin dalam alkohol diketahui dapat memengaruhi sel-sel saraf, memicu gangguan memori sejak dini, bahkan menyebabkan penyusutan jaringan otak atau atrofi otak.
Oleh sebab itu, menjaga pola hidup sehat sejak dini menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko demensia di masa mendatang. (*)



















